Pemeriksaan Uji Silang Serasi, Kompatibilitas atau Pencocokan Silang (Crossmatching)

Berbagi
Print

Pendahuluan


Pemeriksaan Uji silang serasi, kompatibilitas atau pencocokan silang (Crossmatching) melibatkan pencocokan silang darah donor terpilih dengan tipe ABO dan RhD yang sesuai untuk pasien yang membutuhkan transfusi darah. Darah donor yang dipilih dianggap kompatibel jika tidak ada reaksi yang dapat diamati dalam tes kompatibilitas antara darah donor dan darah pasien. Asumsi kemudian dapat dibuat bahwa ketika ditransfusikan, darah akan bertahan secara normal di penerima. Langkah terpenting selama proses ini adalah identifikasi pasien yang benar dan pemilihan darah dari golongan ABO yang tepat untuk pasien tersebut. Crossmatching adalah proses yang relatif sederhana tetapi jika tidak dilakukan dengan benar, dapat menyebabkan darah yang salah ditransfusikan ke pasien, dengan konsekuensi yang mungkin berbahaya. Bila ini terjadi biasanya akibat kesalahan identifikasi pasien dan atau pergantian sampel pasien, baik di rumah sakit maupun di laboratorium atau bank darah.

Pemeriksaan uji silang serasi ini sangat perlu untuk mencegah reaksi transfusi dengan memastikan penderita tidak mengandung antibody yang reaktif terhadap antigen pada sel darah merah donor dan bermanfaat bagi pasien. Uji silang serasi atau Crossmatching merupakan serangkaian prosedur yang dikenal sebagai uji kompatibilitas. Terkadang istilah uji kompatibilitas dan uji silang serasi digunakan secara bergantian, tetapi silang serasi hanyalah bagian dari uji kompatibilitas. Tes kompatibilitas meliputi:
  • Tinjauan riwayat dan catatan bank darah pasien sebelumnya (jika dilakukan lebih awal).
  • ABO dan Rh typing penerima dan donor.
  • Tes skrining antibodi serum resipien dan donor.
  • Crossmatching.

Tujuan dari uji silang serasi/crossmatch untuk mengetahui apakah sel darah merah donor bisa hidup didalam tubuh pasien dan untuk mengetahui ada tidaknya antibody komplet (tipe IgM) maupun antibody inkomplet (tipe IgG) dalam serum pasien (mayor) maupun dalam serum donor yang melawan sel pasien (minor). Prosedur ini dilakukan dalam dua bagian:
  • Crossmatch mayor: Dalam crossmatch ini sel darah merah donor dicampur dengan serum pasien.
  • Crossmatch minor: Dalam crossmatch ini sel darah merah pasien dicampur dengan serum donor.

Kumpulkan 2 mL darah segar resipien, sedangkan darah donor diambil dari pilot tube. Darah donor dari tabung pilot tidak boleh lebih dari 21 hari dan disimpan secara konstan pada suhu 4°C.

Tipe cross-match
Tipe cross-matchDonorPenerima (pasien)
Mayorsel darah merahserum
Minorserum sel darah merah

Teknik cross-match mayor
Jenis cross-matchMendeteksi antibodi tipe
SalineIgM
Teknik albuminIgG
Teknik enzimIgG dan beberapa IgM
Tes antiglobulin atau tes CoombsIgG

Crossmatch mayor
Ini melibatkan pengujian serum/plasma penerima yang dituju dengan sel darah merah dari setiap unit darah yang dipilih untuk transfusi. Pencocokan silang utama adalah yang paling bernilai karena menguji apakah sel darah merah dari donor darah yang dipilih untuk pencocokan silang mengandung antigen yang terhadapnya penerima yang dituju memiliki antibodi. Jika crossmatch positif (menandakan reaksi antara sel darah merah donor dan antibodi penerima), maka sumbangan tersebut tidak cocok dan akan hancur atau memiliki umur yang berkurang jika ditransfusikan.

Crossmatch minor
Ini melibatkan pengujian sel darah merah penerima yang dituju dengan plasma dari setiap unit darah yang dipilih untuk transfusi.

Pencocokan silang minor jarang dilakukan kecuali menyelidiki reaksi merugikan terhadap transfusi darah utuh atau produk plasma, untuk menentukan apakah plasma donor mengandung antibodi yang diarahkan ke antigen sel darah merah pada pasien. Plasma yang ditransfusikan yang tidak kompatibel dengan ABO dan titer rendah atau bebas hemolisin dengan cepat diencerkan dalam sirkulasi penerima, dan juga dapat dinetralkan oleh zat ABH yang ada di jaringan penerima, sehingga tidak mungkin menyebabkan reaksi serius. Dalam kasus konsentrat sel darah merah, sangat sedikit plasma yang tersisa dalam produk darah yang disuplai.

Namun, plasma donor dapat menyebabkan reaksi dalam keadaan berikut:
  • Plasma donor dengan antibodi ABO kuat dapat menyebabkan reaksi hemolitik. Misalnya, anti-A, B yang kuat dalam darah donor golongan O dapat menyebabkan hemolisis sel darah merah penerima golongan A atau B.
  • Plasma donor yang mengandung antibodi HLA terhadap antigen sel darah putih penerima dapat menyebabkan transfusion-related acute lung injury (TRALI).


Prinsip uji silang serasi adalah serum penerima diuji terhadap sel darah merah donor di bawah kondisi yang berbeda untuk menetapkan kompatibilitas atau non-aglutinasi. Aglutinasi dalam salah satu kondisi menunjukkan adanya antibodi yang tidak kompatibel rawat inap. Antibodi bisa alami atau imun. Ada tiga fase pengujian kompatibilitas seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Fase salin: Pada fase ini, reaksi imunologis antara sel darah merah yang tersuspensi dalam garam dan antibodi terjadi pada suhu kamar. Termofase: Pada fase ini, sel darah merah disuspensikan dalam serum yang mengandung antibodi dengan albumin sapi 22% (protein) dan diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37°C.
Fase antihuman globulin (AHG): Pada fase ini, sel darah merah yang diinkubasi dicuci (untuk menghilangkan globulin bebas) dan direaksikan dengan serum antihuman globulin (serum Coombs).

Inkompatibilitas ABO dikenali pada fase salin dengan adanya aglutinasi. Adanya aglutinasi pada fase lain menunjukkan adanya antibodi imun, tidak lengkap, atau tidak teratur.
Tidak ada aglutinasi di salah satu dari tiga fase menunjukkan darah donor dan resipien yang kompatibel.

Prosedur


Persiapan alat bahan yaitu tabung serologi, pipet Tetes, waterbath (suhu 37°C), sentrifuge, objek glass, mikroskop, salin (NaCl 0,9 %), bovine albumin 22 %, serum coombs (Anti Human Globulin), darah pasien dan darah donor.

Menyalakan dan incubator/waterbath pada suhu 37⁰C. Sebelum digunakan reagen di biarkan pada suhu kamar dan jika sudah selesai disimpan kembali pada suhu 2-8⁰C. Menyiapkan darah dengan antikoagulan yang akan diperiksa. Persiapan darah yang akan diperiksa mulai dari pemisahan plasma dari sel darah merah sampai pembuatan suspensi sel. Setiap pekerjaan harus di ceklist pada lembar kerja pemeriksaan uji silang serasi. Catat tanggal penerimaan sampel, indentitas sampel, tanggal pemeriksaan.

Langkah kerja
Fase I
Siapkan 3 buah tabung reaksi 12x75mm beri indentitas tabung tersebut : mayor, minor dan auto control. Masukan kedalam masing-masing tabung Mayor : 2 tetes plasma pasien + 1 tetes suspensi sel darah merah 5% donor. Minor : 2 tetes plasma donor + 1 tetes suspensi sel darah merah 5% pasien. Auto control : 2 tetes plasma pasien + 1 tetes suspensi sel darah merah 5% pasien.
Jika sudah homogenkan dengan menokok tabung secara perlahan, sentrifugasi 3000rpm selama 15 detik atau 1 menit. Setelah di sentrifuge homogenkan kembali dan baca reaksinya terhadap hemolysis dan atau aglutinasi secara maroskopis jika tidak ada agutinasi coba lakukan pembacaan secara makroskopis. Pembacaan hasil pada fase I ini adalah :

HemolysisNegatiflanjutkan fase II
AglutinasiNegatiflanjutkan fase II
Hemolysispositiftidak cocok (Inkompatibel)
aglutinasipositiftidak cocok (Inkompatibel)

Fase II
Pada fase ini setiap tabung ditambahkan 2 tetes bovine albumin 22% kemudian dihomogenkan dengan mengocok secara perlahan. Inkubasi semua tabung pada suhu 37⁰C selama 15 menit. Setelah di inkubasi, sentrifugasi pada kecepatan 3000rpm selama 15 detik atau 1 menit. Setelah sentrifuge selesai homogenkan kembali dan baca reaksinya terhadap hemolysis dan atau aglutinasi secara maroskopis jika tidak ada agutinasi coba lakukan pembacaan secara makroskopis. Pembacaan hasil pada fase II ini adalah :

HemolysisNegatiflanjutkan fase III
AglutinasiNegatiflanjutkan fase III
Hemolysispositiftidak cocok (Inkompatibel)
aglutinasipositiftidak cocok (Inkompatibel)

Fase III
Pada fase ini tabung Mayor, Minor dan Auto control dicuci dengan saline sebanyak tiga kali yaitu dengan cara seperti saat pembuatan suspensi sel 100%. Pada pencucian terakhir, buang supernatant sebersih bersihnya, namun hati-hati jangan sampai sampel hilang. Kemudian tambahkan 2 tetes ke masing-masing tabung dengan anti human globulin (Coombs serum / AHG). Homogenkan dengan cara mengocok perlahan isi tabung, sentrifugasi 3000rpm selama 15 detik atau 1 menit. Setelah sentrifuge selesai homogenkan kembali dan baca reaksinya terhadap hemolysis dan atau aglutinasi secara makroskopis. Pembacaan hasil pada fase III ini sebagi berikut :

HemolysisNegatiflanjutkan
AglutinasiNegatiflanjutkan
Hemolysispositiftidak cocok (Inkompatibel)
aglutinasipositiftidak cocok (Inkompatibel)

Hasil uji silang serasi telah selesai dilakukan namun jika hasil yang diperoleh negatif harus divalidasi terlebih dahulu dengan uji Coombs (Control Cell Coombs / CCC). Masing-masing tabung tambahkan 2 tetes CCC, sentrifugasi 3000 rpm selama 15 detik atau satu menit. Hasil validasi dengan CCC harus memberikan reaksi 2+ (positif dua), jika hasil negatif maka pemeriksaan uji silang serasi harus diulang (tidak valid). Kesimpulan apabila hasil uji silang serasi kompatibel berarti darah donor bisa ditransfusikan ke pasien dan apabila hasil uji silang serasi inkompatibel darah donor tidak bisa di transfusikan ke pasien.

Ilustrasi

Pustaka


  1. WHO, 2002, Model Standrad Operatin Prosedures for Blood Transfusion Service, World Health Organization (WHO).
  2. B. Armstrong, R. Wilkinson & E. Smart, 2008, Blackwell Publishing Ltd Compatibility testing, Journal compilation Hal. 197–215, Blackwell Publishing Ltd.
  3. Ramadas Nayak, Sharada Rai & Astha Gupta, 2012, Essentials in Essentials in Hematology and Hematology and Clinical P Clinical Pathology, First Edition, Jaypee Brothers Medical Publishers.
  4. Eva Ayu Maharani & Ganjar Noviar, 2018, Bahan Ajar Teknologi Laboratorium Medik (TLM), Imunohematologi dan Bank Darah, Kementrian Kesehatan Replublik Indonesia.
  5. Pritam Singh Ajmani, 2020, Immunohematology and Blood banking, Principles and Practice, Springer Nature Singapore Pte Ltd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar