setting
Font Type: Arial Georgia Verdana
Font Size: Aa Aa Aa
Line Spacing:
Background:

Mengenal Macam-macam Antikoagulan Sampel Darah dalam Pemeriksaan Laboratorium

Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan atau pembekuan darah (coagulation) dengan cara mengikat ion kalsium (chelating) atau menghambat pembentukan trombin yang diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam kaskade koagulasi (Turgeon, 2012).

Dalam pemeriksaan laboratorium klinik, pemilihan antikoagulan yang tepat merupakan salah satu faktor pra-analitik yang paling kritis. Kesalahan dalam memilih jenis antikoagulan, rasio perbandingan yang tidak tepat, atau penanganan sampel yang kurang baik dapat menghasilkan data yang tidak valid, bahkan meski proses analitik dan instrumen bekerja sempurna. Prinsip ini dirangkum dengan baik dalam panduan CLSI H21: "Highly sophisticated testing technology cannot produce good results from poorly collected specimens" (CLSI H21, 2024).

Artikel ini membahas secara sistematis jenis-jenis antikoagulan yang digunakan dalam laboratorium klinik, mekanisme kerjanya, indikasi pemeriksaan, konsentrasi yang direkomendasikan, serta hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam praktik sehari-hari.

Google. (2026). Ilustrasi antikoagulan EDTA, [Gambar yang dihasilkan oleh AI menggunakan Nano Banana]. Google Gemini. https://gemini.google.com.


Klasifikasi Antikoagulan Berdasarkan Mekanisme Kerja

Secara mekanisme, antikoagulan laboratorium dibagi menjadi dua kelompok besar:

Antikoagulan Pengkelasi Kalsium (Calcium-Chelating Agents)

Bekerja dengan mengikat ion kalsium (Ca²⁺) bebas dalam darah secara ireversibel, sehingga kalsium tidak tersedia untuk mengaktivasi faktor koagulasi. Kalsium merupakan kofaktor esensial dalam kaskade koagulasi (faktor IV). Termasuk dalam kelompok ini: EDTA, Natrium Sitrat, dan Oksalat.

Antikoagulan Penghambat Trombin

Bekerja dengan menghambat pembentukan trombin dari protrombin, sehingga mencegah konversi fibrinogen menjadi fibrin. Termasuk dalam kelompok ini: Heparin.


Jenis-jenis Antikoagulan dan Penjelasannya



EDTA (Ethylenediaminetetraacetic Acid)

Formula kimia: [CH₂N(CH₂CO₂H)₂]₂

Warna tutup tabung: Ungu / Lavender

Mekanisme Kerja

EDTA bekerja dengan mengkelasi (mengikat secara ireversibel) ion kalsium bebas dalam darah, sehingga mencegah aktivasi kaskade koagulasi. Karena darah tidak membeku, bagian cair yang diperoleh setelah sentrifugasi adalah plasma (Banfi, Salvagno, & Lippi, 2007).

Bentuk dan Jenis EDTA

EDTA tersedia dalam tiga bentuk garam yang umum digunakan di laboratorium (Turgeon, 2012; ICSH, 1993; Goossens et al., 1991):

Jenis Bentuk Fisik Keunggulan Kelemahan Status
K₂EDTA (Dipotassium) Kering (spray-dried coating) Tidak mengencerkan sampel; stabilitas sel baik; kelarutan cepat; efek minimal pada morfologi sel Sedikit penyusutan eritrosit, namun minimal Direkomendasikan ICSH & CLSI
K₃EDTA (Tripotassium) Cair Kelarutan sangat cepat Mengencerkan sampel (efek dilusi); penyusutan eritrosit lebih besar; MCV mengecil; Hb/RBC/WBC lebih rendah karena dilusi ⚠Masih digunakan, tidak direkomendasikan ICSH
Na₂EDTA (Disodium) Kering Tidak mengencerkan sampel Kelarutan lambat → risiko mikrobekuan; performa lebih rendah Sudah banyak ditinggalkan

Rekomendasi ICSH & CLSI: International Council for Standardization in Hematology (ICSH) dan CLSI secara resmi merekomendasikan K₂EDTA kering (dry additive) sebagai antikoagulan pilihan untuk penghitungan dan pengukuran sel darah (ICSH, 1993; Zahraini et al., 2021). K₂EDTA menghasilkan efek hiperosmolar yang lebih kecil dibandingkan K₃EDTA, sehingga tidak menyebabkan penyusutan eritrosit yang bermakna (Goossens et al., 1991).

Konsentrasi yang Direkomendasikan

Konsentrasi optimal EDTA adalah 1,5–2,0 mg/mL darah (atau 1–1,5 mg/mL menurut beberapa referensi). Rasio ini sangat penting karena (Turgeon, 2012; ICSH, 1993):

  • EDTA berlebihan: penyusutan eritrosit signifikan, volume sel meningkat, hematokrit tinggi palsu dan morfologi sel terdistorsi
  • EDTA kurang: risiko pembentukan mikrobekuan dan hasil pemeriksaan tidak valid
Waktu Stabilitas Sampel EDTA

Sampel EDTA relatif stabil pada suhu kamar untuk pemeriksaan darah lengkap (CBC). Namun pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin. Untuk apusan darah tepi, idealnya dibuat dalam 1–2 jam setelah pengambilan darah untuk menghindari perubahan morfologi sel.

Kegunaan Klinis EDTA
  • Pemeriksaan darah lengkap (CBC)
  • Hitung jenis leukosit (differential count)
  • Laju endap darah (LED/ESR) metode EDTA-otomatis
  • Pemeriksaan hemoglobin HbA1c
  • Pemeriksaan golongan darah dan uji silang
  • Pemeriksaan malaria (apusan darah)
  • Tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan koagulasi (PT, APTT)
  • Tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan kimia darah dan elektrolit (mengikat Ca²⁺, Mg²⁺)
  • Tidak baik untuk apusan darah dengan pewarnaan Wright/Giemsa jika sampel sudah terlalu lama
EDTA-Dependent Pseudothrombocytopenia (PTCP)

Kondisi ini adalah fenomena in vitro di mana jumlah trombosit tampak sangat rendah pada sampel EDTA, padahal sebenarnya normal. Hal ini terjadi karena EDTA memicu aglutinasi trombosit melalui antibodi tertentu. Lippi & Plebani merekomendasikan kecurigaan EDTA-dependent PTCP jika ditemukan trombosit <100×10⁹/L yang tidak sesuai dengan gambaran klinis. Solusinya adalah memeriksa apusan darah untuk konfirmasi, dan mengulang pemeriksaan menggunakan tabung sitrat atau natrium heparin (Zahraini et al., 2021).



Natrium Sitrat (Sodium Citrate / Trisodium Citrate)

Formula kimia: Na₃C₆H₅O₇ · 2H₂O (Trisodium citrate dihydrate)

Warna tutup tabung: Biru muda (light blue)

Mekanisme Kerja

Natrium sitrat bekerja dengan mengkelasi ion kalsium bebas dalam darah secara reversibel. Karena pengkelasiannya bersifat reversibel, kalsium dapat dikembalikan dengan penambahan CaCl₂ saat pemeriksaan koagulasi dilakukan — inilah yang menjadi dasar uji PT, APTT, dan pemeriksaan koagulasi lainnya (Turgeon, 2012; CLSI H47-A2, 2008).

Konsentrasi yang Direkomendasikan

Menurut CLSI H21 (2024) dan ICSH, konsentrasi yang direkomendasikan adalah 3,2% (0,105–0,109 M) trisodium sitrat terbuffer. Konsentrasi 3,8% (yang sebelumnya digunakan) telah dihapus dari rekomendasi terbaru CLSI H21 karena dapat menyebabkan pemanjangan palsu pada uji PT dan APTT, terutama pada sampel underfill atau sampel dengan hematokrit tinggi (CLSI H21, 2024; Simundic et al., 2018).

Rasio Darah:Antikoagulan: 9:1

Rasio yang wajib adalah 9 bagian darah : 1 bagian natrium sitrat. Ini adalah persyaratan yang tidak dapat dikompromikan karena (CLSI H21, 2024; CLSI H47-A2, 2008; Kitchen et al., 2021):

  • Tabung kurang terisi (underfill), rasio antikoagulan berlebih: PT dan APTT memanjang palsu
  • Tabung terisi berlebih (overfill), rasio antikoagulan kurang: risiko mikrobekuan dan hasil tidak valid
  • Tabung harus terisi minimal 80% dari volume target (Kitchen et al., 2021)
Koreksi untuk Hematokrit Tinggi

Pada pasien dengan hematokrit >55%, volume sitrat dalam tabung harus disesuaikan menggunakan formula (atau nomogram) khusus, karena volume plasma yang tersedia lebih kecil sehingga rasio sitrat:plasma menjadi tidak proporsional dan dapat menyebabkan pemanjangan palsu (CLSI H21, 2024; CLSI H47-A2, 2008).

Formula penyesuaian volume sitrat (CLSI H47-A2):

Volume sitrat (mL) = 1,85 × 10⁻³ × (100 − hematokrit) × volume darah (mL)
Stabilitas Sampel Sitrat

Berdasarkan CLSI H21 (2024):

  • Darah sitrat utuh harus disentrifugasi dalam 30 menit setelah pengambilan
  • Pemeriksaan koagulasi harus dilakukan dalam 4 jam setelah pengambilan sampel (untuk semua pemeriksaan)
  • Jika tidak bisa diproses, plasma harus dipisahkan dan dapat disimpan di atas es hingga 1,5 jam
  • Untuk penyimpanan jangka pendek: plasma beku pada -24°C (stabil 3 bulan)
  • Untuk penyimpanan jangka panjang: plasma beku pada -70°C (stabil ±6 bulan)
Kegunaan Klinis Natrium Sitrat
  • Pemeriksaan koagulasi: PT/INR, APTT, Fibrinogen, D-dimer
  • Agregasi trombosit (platelet aggregation test)
  • Laju endap darah (LED/ESR) metode Westergren
  • Tidak cocok untuk sebagian besar pemeriksaan hematologi lainnya


Heparin

Warna tutup tabung: Hijau

Mekanisme Kerja

Heparin adalah mukopolisakarida asam bermuatan negatif yang bekerja sebagai antikoagulan dengan mengaktivasi antitrombin III (AT-III). Kompleks heparin-antitrombin akan menetralisir trombin (faktor IIa) dan faktor Xa, sehingga menghambat konversi fibrinogen menjadi fibrin (Turgeon, 2012).

Jenis Heparin

Ada tiga jenis garam heparin yang tersedia (Turgeon, 2012):

Jenis Keterangan Rekomendasi
Lithium Heparin Tidak mengandung ion yang mengganggu analisis elektrolit dan kimia darah Paling banyak digunakan
Sodium Heparin Mengandung Na⁺ — tidak cocok untuk pemeriksaan natrium darah Terbatas penggunaannya
Ammonium Heparin Mengandung NH₄⁺ — tidak cocok untuk pemeriksaan nitrogen urea darah Jarang digunakan

Konsentrasi yang Direkomendasikan

Konsentrasi optimal heparin adalah 15 IU/mL ± 2,5 IU/mL (atau 0,1–0,2 mg/mL darah) (Turgeon, 2012).

Keunggulan Heparin untuk Kimia Klinik

Heparin menghasilkan plasma yang dapat langsung digunakan untuk sebagian besar pemeriksaan kimia klinik tanpa menunggu bekuan terbentuk (seperti pada tabung serum). Ini menjadikan tabung heparin ideal untuk pemeriksaan STAT atau darurat yang memerlukan hasil cepat.

Kegunaan Klinis Heparin
  • Pemeriksaan kimia darah (glukosa, urea, kreatinin, kolesterol, enzim hati)
  • Analisis gas darah (BGS)
  • Kultur sel dan pemeriksaan kromosom (sitogenetika)
  • Osmotic Fragility Test (OFT)
  • Pemeriksaan elektrolit (gunakan lithium heparin, bukan sodium/ammonium heparin)
  • Tidak untuk pemeriksaan hematologi rutin (CBC)
  • Tidak untuk pembuatan apusan darah pewarnaan Wright/Giemsa (heparin menghambat pewarnaan, menghasilkan latar biru)
  • Tidak untuk pemeriksaan koagulasi (heparin sendiri adalah antikoagulan terapeutik)


Oksalat

Warna tutup tabung: Abu-abu (biasanya dikombinasi dengan NaF)

Mekanisme Kerja

Oksalat bekerja dengan mengkelasi ion kalsium membentuk garam kalsium oksalat yang tidak larut, sehingga mencegah aktivasi kaskade koagulasi (Turgeon, 2012).

Jenis Oksalat
Jenis Mekanisme Kegunaan Utama
Natrium Oksalat (Na₂C₂O₄) Mengikat kalsium Pembuatan adsorbed plasma dalam pemeriksaan hemostasis (jarang digunakan sekarang)
Kalium Oksalat + NaF Oksalat: mengikat kalsium (antikoagulan); NaF: menghambat enzim enolase dan urease (antiglikolisis) Pemeriksaan glukosa darah — NaF mencegah glikolisis sehingga kadar glukosa stabil

Kegunaan Klinis Oksalat
  • Pemeriksaan glukosa darah (tabung abu-abu, kombinasi K-oxalate + NaF)
  • Pembuatan adsorbed plasma (Natrium Oksalat) dalam laboratorium hemostasis rujukan
  • Tidak cocok untuk pemeriksaan hematologi dan kebanyakan kimia klinik

Mengapa NaF penting? Tanpa NaF, glukosa dalam sampel darah akan terus dimetabolisme oleh eritrosit melalui proses glikolisis dengan laju ±5–7% per jam pada suhu kamar. NaF menghambat enzim enolase dan urease dalam jalur glikolisis, sehingga kadar glukosa dalam tabung ini stabil selama beberapa jam (Turgeon, 2012).


Ringkasan: Antikoagulan, Jenis Tabung, dan Indikasinya
Antikoagulan Tutup Tabung Mekanisme Hasil Spesimen Pemeriksaan yang Direkomendasikan
K₂EDTA Ungu / Lavender Chelasi Ca²⁺ (ireversibel) Plasma / Darah EDTA Darah Lengkap (CBC), LED, HbA1c, golongan darah, malaria
Natrium Sitrat 3,2% Biru muda Chelasi Ca²⁺ (reversibel) Plasma Sitrat PT/INR, APTT, Fibrinogen, D-dimer, LED Westergren, agregasi trombosit
Lithium Heparin Hijau Aktivasi antitrombin III → inhibisi trombin & faktor Xa Plasma Heparin Kimia darah STAT, elektrolit, gas darah, kultur sel, OFT
K-Oksalat + NaF Abu-abu Chelasi Ca²⁺ + inhibisi glikolisis (NaF) Plasma Oksalat Glukosa darah (dan laktat)
Tanpa antikoagulan Merah / Kuning (SST) Darah dibiarkan membeku Serum Serologi, hormon, sebagian besar kimia darah, tumor marker

Faktor Pra-Analitik yang Harus Diperhatikan

Selain pemilihan antikoagulan yang tepat, faktor-faktor pra-analitik berikut sangat menentukan kualitas sampel (CLSI H21, 2024; Kitchen et al., 2021; WHO Guidelines on Drawing Blood, 2010):

  1. Pencampuran Segera Setelah Pengambilan

    Semua tabung berisi antikoagulan harus segera diinversikan (dibalik) 3–5 kali secara perlahan setelah diisi darah, untuk memastikan pencampuran yang merata antara darah dan antikoagulan (Kitchen et al., 2021). Inversisi yang terlalu kuat dapat menyebabkan hemolisis.

  2. Volume Pengisian Tabung

    Khusus untuk tabung sitrat, volume pengisian harus tepat (minimal 80% dari target volume) untuk menjaga rasio 9:1 yang benar. Untuk tabung EDTA dan heparin, tabung vakum modern dirancang untuk mengisi volume yang tepat secara otomatis (CLSI H21, 2024).

  3. Urutan Pengambilan (Order of Draw)

    Urutan pengisian tabung saat menggunakan sistem vakum penting untuk mencegah kontaminasi silang antar antikoagulan. Urutan yang direkomendasikan CLSI adalah (CLSI H21, 2024):

    1. Tabung kultur darah (kuning)
    2. Tabung sitrat — biru muda (jika menggunakan winged butterfly needle, tabung pembuangan/discard harus diambil lebih dulu)
    3. Tabung serum (merah/kuning)
    4. Tabung heparin (hijau)
    5. Tabung EDTA (ungu)
    6. Tabung glukosa/oksalat-NaF (abu-abu)
  4. Transportasi dan Penyimpanan

    Sampel untuk koagulasi tidak boleh disimpan di atas es karena suhu rendah mengaktivasi faktor VII dan menyebabkan pemanjangan palsu. Sampel darah lengkap sitrat harus disimpan pada suhu kamar dan diproses dalam 4 jam (CLSI H21, 2024).

  5. Hemolisis, Ikterus, dan Lipemia

    Ketiga kondisi ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan secara signifikan. Hemolisis melepaskan konten intraseluler yang dapat mengganggu pemeriksaan enzim, elektrolit, dan koagulasi. Ikterus (bilirubin tinggi) dan lipemia mempengaruhi pemeriksaan optis. Sampel yang hemolisis, ikterus berat, atau lipemia berat harus dilaporkan dan dipertimbangkan pengaruhnya terhadap hasil (CLSI H21, 2024).

Kesimpulan

Pemilihan antikoagulan yang tepat merupakan fondasi dari pemeriksaan laboratorium yang berkualitas. Empat antikoagulan utama yang digunakan EDTA, natrium sitrat, heparin, dan oksalat masing-masing memiliki mekanisme kerja, indikasi, dan persyaratan yang berbeda. Kesalahan dalam memilih atau menggunakan antikoagulan dapat menghasilkan data yang menyesatkan dan berdampak langsung pada keputusan klinis.

Panduan internasional dari CLSI (H21, H47) dan rekomendasi ICSH memberikan kerangka standar yang harus dijadikan acuan oleh setiap laboratorium dalam menetapkan prosedur pengambilan dan penanganan sampel. Dengan memahami prinsip dasar setiap antikoagulan, seorang tenaga laboratorium dapat meminimalkan kesalahan pra-analitik dan menghasilkan data yang akurat, reproducible, dan dapat dipercaya.

Referensi
  1. CLSI.(2024). Collection, Transport, and Processing of Blood Specimens for Testing Plasma-Based Coagulation Assays; Approved Guideline, Sixth Edition. CLSI document H21Ed6E. Wayne, PA: Clinical and Laboratory Standards Institute.
  2. CLSI. (2008). One-Stage Prothrombin Time (PT) Test and Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) Test; Approved Guideline — Second Edition. CLSI document H47-A2. Wayne, PA: Clinical and Laboratory Standards Institute.
  3. Kitchen, S., Adcock, D.M., et al. (2021). ICSH recommendations for collection of blood samples for coagulation testing. International Journal of Laboratory Hematology, 43(4), 571–580. DOI: 10.1111/ijlh.13584
  4. Turgeon, M.L. (2012). Clinical Hematology: Theory and Procedure (5th ed.). Lippincott Williams & Wilkins / Wolters Kluwer, Baltimore, MD.
  5. Banfi, G., Salvagno, G.L., & Lippi, G. (2007). The role of ethylenediamine tetraacetic acid (EDTA) as an in vitro anticoagulant for diagnostic purposes. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine, 45(5), 565–576. DOI: 10.1515/CCLM.2007.110
  6. Goossens, W., van Duppen, V., & Verwilghen, R.L. (1991). K₂- or K₃-EDTA: the anticoagulant of choice in routine haematology? Clinical and Laboratory Haematology, 13(4), 291–295.
  7. ICSH. (1993). Recommendations of the International Council for Standardization in Haematology for ethylenediaminetetraacetic acid anticoagulation of blood for blood cell counting and sizing. American Journal of Clinical Pathology, 100(4), 371–372.
  8. Zahraini, H., Indrasari, Y.N., & Kahar, H. (2021). Comparison of K2 and K3 EDTA anticoagulant on complete blood count and erythrocyte sedimentation rate. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 28(1).
  9. World Health Organization (WHO). (2010). WHO Guidelines on Drawing Blood: Best Practices in Phlebotomy. Geneva: WHO.
  10. Simundic, A.M., et al. (2018). Joint EFLM-COLABIOCLI Recommendation for venous blood sampling. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine, 56(12), 2015–2038. DOI: 10.1515/cclm-2018-0602
Posting Lebih Baru
Posting Lebih Baru
Posting Lama
Posting Lama