setting
Font Type: Arial Georgia Verdana
Font Size: Aa Aa Aa
Line Spacing:
Background:

Cara Mengatasi Vena yang Sulit Ditemukan saat Phlebotomy

Salah satu tantangan sebagai Tenaga Teknologi Laboratorium Medis atau (TTLM) atau analis kesehatan dalam kesehariannya adalah menghadapi pasien dengan vena yang sulit ditemukan atau sulit ditusuk. Kondisi ini juga dikenal sebagai Difficult Venous Access (DVA). Definisi berbasis bukti yang diusulkan dalam tinjauan sistematis terbaru, DVA dapat dikenali ketika seorang klinisi gagal melakukan dua kali atau lebih venipuncture menggunakan teknik konvensional, atau ketika tanda fisik seperti vena yang tidak terlihat dan tidak teraba ditemukan pada pasien (Costantino et al., 2022).

Kondisi DVA tidak hanya membuat prosedur menjadi lebih lama dan menyakitkan bagi pasien, tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi seperti hematoma, kerusakan saraf, hingga tertundanya diagnosis. Oleh karena itu, setiap petugas phlebotomy perlu memahami penyebab vena sulit dan strategi mengatasinya secara sistematis.

Mengapa Vena Bisa Sulit Ditemukan?

Sebelum mencari solusi, penting untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan vena sulit diakses. Menurut WHO Guidelines on Drawing Blood: Best Practices in Phlebotomy (WHO, 2010), beberapa kondisi yang memengaruhi aksesibilitas vena antara lain:

Faktor pasien:

  • Dehidrasi: volume darah berkurang sehingga vena kolaps dan mengecil
  • Obesitas: lapisan lemak subkutan yang tebal menutupi vena
  • Usia lanjut: vena menjadi rapuh, tipis, dan mudah bergerak (rolling vein)
  • Bayi dan anak kecil: diameter vena yang sangat kecil
  • Riwayat kemoterapi atau terapi intravena jangka panjang: vena mengalami sklerosis (pengerasan)
  • Riwayat penggunaan narkoba suntik: kerusakan pembuluh darah vena
  • Pasien dengan penyakit kronis: kondisi debilitasi umum menurunkan turgor vena

Faktor teknis:

  • Tourniquet yang tidak tepat, terlalu longgar tidak membuat vena menonjol; terlalu kencang atau terlalu lama menyebabkan hemokonsentrasi
  • Pilihan vena yang kurang tepat
  • Kondisi lingkungan, suhu ruangan dingin membuat vena berkontraksi
Prinsip Dasar: Pilih Vena yang Tepat Terlebih Dahulu

Langkah pertama sebelum menusuk adalah memilih vena yang paling tepat. Menurut CLSI GP41 Ed.7 (2017), standar internasional untuk pengambilan spesimen darah vena diagnostik, urutan prioritas pemilihan vena adalah sebagai berikut:

  1. Vena median cubital: vena di tengah fossa antecubital; paling direkomendasikan karena dekat dengan permukaan, besar, dan relatif tidak bergerak
  2. Vena cephalica: sisi luar (ibu jari) fossa antecubital; pilihan kedua
  3. Vena basilica: sisi dalam (kelingking) fossa antecubital; harus dihindari jika memungkinkan karena di bawahnya terdapat arteri brachialis dan nervus medianus, sehingga risiko cedera lebih tinggi
  4. Vena dorsum manus: punggung tangan; dapat digunakan dengan winged needle (butterfly needle)

Area yang DILARANG digunakan (CLSI GP41, 2017):

  • Sisi palmar pergelangan tangan, di bawah permukaan kulit terdapat struktur vital (saraf, arteri)
  • Kaki dan pergelangan kaki, kecuali dengan izin dokter tertulis
  • Lengan yang sama sisi dengan mastektomi
Strategi Praktis Mengatasi Vena Sulit
  1. Hangatkan Area Penusukan

    Panas merupakan vasodilator alami. Kompres hangat (suhu sekitar 40–42°C) selama 3–5 menit pada area antecubital akan melebarkan pembuluh darah dan membuat vena lebih menonjol serta lebih mudah dipalpasi. Teknik ini sangat membantu pada pasien lansia, pasien di ruangan ber-AC dingin, atau pasien dengan dehidrasi ringan.

  2. Perbaiki Posisi Lengan Pasien

    Posisi lengan yang benar sangat berpengaruh. Minta pasien untuk meluruskan lengan ke bawah (sedikit menggantung) — gravitasi membantu pengisian vena — dan mengepalkan tangan beberapa kali sebelum penusukan. Menurut panduan WHO (2010), pasien diminta mengepalkan tangan saat petugas sedang mencari vena, dan melepas kepalan begitu jarum masuk ke vena.

  3. Tourniquet: Teknik dan Batas Waktu

    Panduan CLSI GP41 Ed.7 (2017) dan WHO (2010) menegaskan bahwa tourniquet dipasang 7-10 cm di atas lokasi venipuncture yang direncanakan dengan tekanan cukup untuk menghambat aliran vena, tetapi tidak menghambat aliran arteri. Durasi tourniquet TIDAK BOLEH melebihi 1 menit sebelum penusukan untuk mencegah hemokonsentrasi. Jika perlu waktu lebih lama, lepas tourniquet, tunggu 2 menit, kemudian pasang kembali.

  4. Palpasi dengan Benar

    Gunakan ujung jari telunjuk (bukan ibu jari) untuk meraba jalur vena. Vena yang baik terasa seperti tabung yang kenyal dan elastis di bawah kulit. Bedakan dengan tendon yang terasa keras dan tidak elastis, dan dengan arteri yang terasa berdenyut. Menurut standar Korean Society for Laboratory Medicine (2025), gunakan jari telunjuk atau jari tengah untuk palpasi vena secara cermat.

  5. Ganti Lokasi Tusukan

    Jika vena di fossa antecubital tidak dapat ditemukan, pertimbangkan lokasi alternatif:

    • Punggung tangan (dorsum manus): gunakan butterfly needle (winged blood collection set) ukuran 23–25G. Vena di sini lebih kecil sehingga memerlukan jarum yang lebih halus untuk menghindari kolaps vena akibat tekanan vakum tabung.
    • Lengan bawah: vena cephalica dan basilica di sepanjang lengan bawah kadang dapat diakses.

    Perhatian: CLSI GP41 melarang penggunaan area palmar pergelangan tangan karena risiko kerusakan saraf dan arteri yang sangat tinggi.

  6. Gunakan Ukuran Jarum yang Tepat

    Untuk vena kecil dan rapuh, gunakan butterfly needle ukuran 23–25G dan syringe daripada vakutainer langsung, karena tekanan vakum tabung bisa membuat vena kecil kolaps. Pertimbangkan juga tabung volume kecil (pediatric tube) untuk mengurangi tekanan hisap.

  7. Teknik "Anchoring" Vena yang Baik

    Vena yang mudah bergerak (rolling vein) — terutama pada pasien lansia — bisa dicegah dengan teknik anchoring yang baik. Tegangkan kulit di bawah lokasi tusukan dengan ibu jari sehingga vena tertahan dan tidak dapat bergeser saat jarum masuk. WHO (2010) merekomendasikan menempatkan ibu jari di bawah lokasi penusukan untuk menciptakan traksi kulit ke arah distal.

  8. Batas Maksimum Percobaan

    CLSI menegaskan bahwa satu petugas tidak boleh melakukan lebih dari 2 kali percobaan venipuncture. Jika dua kali gagal, percobaan selanjutnya harus dilakukan oleh petugas yang berbeda, dimulai dari awal prosedur, dan menggunakan jarum yang baru. Total percobaan dari semua petugas umumnya dibatasi 4 kali.

Teknologi Bantu: Vein Finder dan Ultrasonografi

Ketika metode konvensional gagal, teknologi modern dapat digunakan sebagai solusi lanjutan.

Near-Infrared (NIR) Vein Finder

Perangkat vein finder berbasis near-infrared (NIR) bekerja dengan memancarkan cahaya inframerah ke permukaan kulit. Hemoglobin dalam darah menyerap cahaya inframerah lebih banyak dibanding jaringan sekitarnya, sehingga pola vena tampak kontras di layar perangkat. Teknologi ini mampu memvisualisasikan vena subkutan hingga kedalaman 10 mm.

Penelitian yang diterbitkan di BMJ Open Quality (2025) menunjukkan bahwa penggunaan NIR vein finder secara signifikan meningkatkan keberhasilan akses vena, terutama pada pasien dengan DVA. Tinjauan sistematis di Nursing Open (2024) menyimpulkan bahwa teknologi ini direkomendasikan oleh Emergency Nurses' Association (ENA) dan Association for Vascular Access (AVA) untuk pasien dengan akses vena sulit.

Ultrasonografi (USG) Panduan Real-Time

Untuk kasus yang benar-benar sulit, ultrasonografi panduan real-time (Point-of-Care Ultrasound / POCUS) adalah standar emas. Meta-analisis di Journal of Clinical Ultrasound (2025) menunjukkan bahwa teknik POCUS secara signifikan meningkatkan angka keberhasilan tusukan pertama (first-attempt success rate) dan mengurangi jumlah percobaan dibandingkan teknik konvensional pada pasien DVA.

Komunikasi dengan Pasien: Faktor yang Sering Diabaikan

Aspek psikologis pasien sangat berpengaruh terhadap keberhasilan phlebotomy. Pasien yang cemas atau takut akan menegangkan otot lengannya, sehingga vena menjadi lebih sulit diakses. Beberapa hal yang dapat dilakukan:

  • Jelaskan prosedur dengan tenang sebelum memulai
  • Minta pasien untuk menarik napas dalam dan rilekskan lengannya
  • Hindari menunjukkan jarum secara langsung kepada pasien yang fobia jarum
  • Distraksi verbal (ajak bicara) dapat membantu mengurangi ketegangan

Menurut panduan WHO (2010), komunikasi yang baik dan lingkungan yang tenang, bersih, dan berpenerangan cukup merupakan komponen penting dari best practice phlebotomy yang berkualitas.

Komplikasi yang Harus Diwaspadai

Saat menghadapi vena sulit, risiko komplikasi meningkat jika teknik tidak tepat. Menurut panduan Korean Society for Laboratory Medicine (2025), komplikasi yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Hematoma: kebocoran darah ke jaringan subkutan; dicegah dengan melepas tourniquet sebelum menarik jarum serta memberikan tekanan adekuat setelah prosedur
  • Phlebitis: peradangan dinding vena akibat teknik yang buruk
  • Kerusakan saraf: terutama jika menusuk di area medial fossa antecubital (dekat vena basilica) di mana nervus medianus berjalan berdekatan
  • Sinkop (pingsan): komplikasi vagal yang sering terjadi pada pasien yang cemas atau berdiri
Tips Menghadapi Vena Sulit

Berikut alur langkah yang direkomendasikan ketika menghadapi vena yang sulit:

  1. Langkah 1: Persiapan pasien: Pastikan pasien cukup terhidrasi, posisikan lengan menggantung ke bawah, dan hangatkan area tusukan dengan kompres hangat 3–5 menit.

  2. Langkah 2: Pilih vena terbaik: Palpasi seluruh area antecubital dengan teliti. Prioritaskan vena median cubital. Pasang tourniquet maksimal 1 menit.

  3. Langkah 3: Sesuaikan peralatan: Gunakan butterfly needle 23–25G dan syringe untuk vena kecil atau rapuh. Pertimbangkan tabung bervolume kecil (pediatric tube).

  4. Langkah 4: Teknik anchoring yang baik: Tegangkan kulit di bawah lokasi tusukan untuk mencegah vena bergeser.

  5. Langkah 5: Coba lokasi alternatif: Jika antecubital gagal, coba punggung tangan dengan butterfly needle.

  6. Langkah 6: Minta bantuan atau gunakan teknologi: Setelah 2 percobaan gagal, minta kolega lain mencoba. Pertimbangkan penggunaan NIR vein finder atau ultrasonografi jika tersedia.

  7. Langkah 7: Dokumentasi: Catat jumlah percobaan, lokasi, alasan kesulitan, dan tindakan yang dilakukan.

Menghadapi vena yang sulit adalah keterampilan yang membutuhkan kombinasi pengetahuan anatomi, teknik yang tepat, dan kepekaan terhadap kondisi pasien. Panduan internasional dari WHO dan CLSI memberikan kerangka kerja yang jelas: prioritaskan vena yang aman, batasi percobaan, gunakan peralatan yang sesuai, dan jangan ragu untuk menggunakan teknologi bantu ketika diperlukan.

Dengan memahami penyebab vena sulit dan menerapkan strategi yang sistematis, petugas phlebotomy dapat meningkatkan angka keberhasilan pengambilan sampel, mengurangi rasa sakit pasien, dan meminimalkan risiko komplikasi.

Referensi
  1. CLSI. (2017). Collection of Diagnostic Venous Blood Specimens. 7th Edition. CLSI Standard GP41. Clinical and Laboratory Standards Institute, Wayne, PA, USA.
  2. World Health Organization (WHO). (2010). WHO Guidelines on Drawing Blood: Best Practices in Phlebotomy. Geneva: World Health Organization. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK138665/
  3. Zaki, M., et al. (2025). Outcomes of POCUS-guided peripheral intravenous access in difficult venous access patients: A systematic review and meta-analysis. Journal of Clinical Ultrasound, Wiley Online Library. https://doi.org/10.1002/jcu.24059
  4. Kim, S., et al. (2025). Standards and Practice Guidelines for Venous Blood Collection: Consensus Recommendations from the Korean Society for Laboratory Medicine. PMC / PubMed. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12187494/
  5. Vascular Access Team. (2024). Vein Visualisation Technology for Peripheral Intravenous Access in Paediatric Patients: A Clinical Decision-Making Tool. Nursing Open, 11(10), e70054. https://doi.org/10.1002/nop2.70054
  6. McKinley, et al. (2024). Ultrasound-Guided Peripheral Intravenous Access Training: A Prospective Observational Study of Emergency Nurses. Cureus, 16(8), e66705. https://doi.org/10.7759/cureus.66705
  7. Improving venous access by using a near-infrared vein-finder device and ultrasound skill building. (2025). BMJ Open Quality, 14(2), e003232. https://doi.org/10.1136/bmjoq-2024-003232
  8. Costantino, T.G., et al. (2022). A narrative review of historic and current approaches for patients with difficult venous access: considerations for the emergency department. Expert Review of Medical Devices, Taylor & Francis. https://doi.org/10.1080/17434440.2022.2095904
  9. Farrell, C., et al. (2023). Ultrasound-guided phlebotomy in primary care for people who inject drugs. Harm Reduction Journal, 20, BioMed Central. https://doi.org/10.1186/s12954-023-00762-5
  10. Garza, D., & Becan-McBride, K. (2018). Phlebotomy Handbook: Blood Specimen Collection from Basic to Advanced. 10th Edition. Pearson.
  11. McCall, R.E., & Tankersley, C.M. (2020). Phlebotomy Essentials. 7th Edition. Wolters Kluwer / Lippincott Williams & Wilkins.
Posting Lebih Baru
Posting Lebih Baru
Posting Lama
Posting Lama