Kemampuan darah untuk membeku (coagulate) merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh. Tanpa sistem koagulasi yang berfungsi baik, luka sekecil apapun bisa menjadi mengancam jiwa. Sebaliknya, pembekuan yang terlalu mudah terjadi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah (trombosis) yang berbahaya.
Untuk mengukur kemampuan pembekuan darah secara keseluruhan di jalur intrinsik, laboratorium klinik menggunakan pemeriksaan Coagulation Time atau Clotting Time (CT) yaitu waktu yang dibutuhkan darah untuk membeku. Salah satu metode klasik yang paling banyak dikenal dan digunakan adalah Metode Lee and White, yang pertama kali dipublikasikan oleh Roger I. Lee dan Paul D. White pada tahun 1913.
Meskipun saat ini sudah terdapat metode yang lebih sensitif seperti APTT (Activated Partial Thromboplastin Time), pemahaman tentang metode Lee and White tetap penting, baik sebagai fondasi konsep hemostasis maupun karena pemeriksaan ini masih digunakan di beberapa fasilitas layanan kesehatan, terutama untuk pemantauan terapi heparin sederhana.
Prinsip
Sejumlah darah segar yang terukur dibiarkan membeku dalam kondisi yang terkontrol (suhu 37°C, volume 1 mL per tabung, tabung kaca 13 × 100 mm), dan waktu yang diperlukan hingga terbentuknya bekuan yang sempurna dicatat sebagai coagulation time.
Secara teoritis, metode ini mengukur seluruh tahapan koagulasi pada jalur intrinsik, mulai dari aktivasi faktor XII (kontak dengan permukaan kaca) hingga terbentuknya bekuan fibrin. Namun, sebagian besar waktu yang terukur sebenarnya dikonsumsi pada tahap pembentukan prothrombin activator (tromboplastin plasma). Konversi protrombin menjadi trombin, dan fibrinogen menjadi fibrin, hanya memerlukan beberapa detik saja (Brown, 1993; Hematology: Principles and Procedures).
Konsekuensinya: defisiensi sedang pada faktor koagulasi tahap 2 dan 3 tidak akan secara signifikan memperpanjang CT. Pemeriksaan ini paling sensitif terhadap gangguan pada tahap 1 (fase pembentukan tromboplastin) dari kaskade koagulasi.
Tujuan
Metode Lee and White memiliki beberapa kegunaan klinis yang spesifik:
- Pemantauan Terapi Heparin
Penggunaan utama metode Lee and White adalah memantau terapi heparin pada pasien dengan gangguan tromboemboli (misalnya trombosis vena dalam atau emboli paru). Heparin yang diberikan secara intravena memperpanjang CT secara signifikan. Prosedurnya, clotting time baseline pasien ditentukan terlebih dahulu, kemudian terapi heparin dimulai dan dipantau dengan pemeriksaan ini (Brown, 1993; Chaudhry & Killeen, 2025).
-
Deteksi Defisiensi Faktor Koagulasi Berat
CT akan memanjang pada:
- Hemofilia berat (defisiensi faktor VIII atau IX yang parah)
- Afibrinogenemia (tidak ada fibrinogen)
- Kondisi fibrinolisis berat
-
Deteksi Inhibitor Koagulasi
Adanya antikoagulan dalam darah, seperti heparin, akan memperpanjang clotting time secara bermakna.
Spesimen
Jenis spesimen: Darah vena segar (fresh whole blood), tanpa antikoagulan
Volume: 4 mL (diisi 1 mL ke masing-masing 3 tabung; 1 mL sisanya dibuang)
Alat dan Bahan
Berdasarkan protokol standar (Brown, 1993; Lee & White, 1913):
| No. | Alat / Bahan | Spesifikasi |
|---|---|---|
| 1 | Water bath | 37°C (termoregulasi stabil) |
| 2 | Tabung kaca | 13 × 100 mm (plain, tidak tersilikonisasi) |
| 3 | Stopwatch | Presisi hingga detik |
| 4 | Syringe | 10 mL |
| 5 | Jarum | Ukuran 20-gauge |
Prosedur
Persiapan- Siapkan tiga tabung kaca 13 × 100 mm, beri label #1, #2, dan #3.
- Tempatkan ketiga tabung dalam water bath 37°C.
- Lakukan venipuncture yang bersih dan atraumatik menggunakan jarum 20-gauge dan syringe 10 mL.
- Hidupkan stopwatch segera saat darah pertama kali masuk ke dalam syringe.
- Ambil 4 mL darah.
- Lepaskan jarum dari syringe.
- Masukkan darah secara perlahan dan hati-hati dengan urutan berikut:
- 1 mL ke tabung #3
- 1 mL ke tabung #2
- 1 mL ke tabung #1
- Sisa 1 mL dapat dibuang
Mengapa urutan #3 → #2 → #1?
Tabung yang diisi pertama (#3) adalah yang paling sedikit terkena agitasi dan penanganan selama prosedur berlangsung — sehingga paling mendekati kondisi alamiah pembekuan. Tabung #3 inilah yang nantinya dijadikan hasil resmi pemeriksaan.
Pemantauan Pembekuan
- Pada tepat menit ke-5, miringkan tabung #1 secara perlahan hingga sudut 45°. Ulangi setiap 30 detik hingga tabung dapat dibalik sempurna tanpa isi tumpah (darah sudah membeku sempurna).
- Catat waktu pembentukan bekuan di tabung #1.
- 30 detik setelah tabung #1 membeku, lakukan prosedur tilting yang sama pada tabung #2 setiap 30 detik hingga membeku. Catat hasilnya.
- Ulangi prosedur pada tabung #3 dengan cara yang sama.
- Hasil resmi yang dilaporkan adalah waktu pembentukan bekuan pada tabung #3, karena tabung ini paling sedikit mengalami agitasi dan penanganan.
Nilai Normal
| Metode | Nilai Normal |
|---|---|
| Tabung kaca biasa (plain) | 5-15 menit (Brown, 1993) |
| Tabung tersilikonisasi (siliconized) | 20-60 menit |
| Referensi lain | 4-11 menit (Chaudhry & Killeen, 2025) |
Perbedaan nilai normal antar metode terjadi karena variasi ukuran tabung, volume darah, suhu inkubasi, dan material tabung. Oleh karena itu, setiap laboratorium wajib menetapkan nilai rujukan lokal berdasarkan metode dan kondisi yang digunakan secara konsisten.
Dasar Ilmiah: Mengapa Tabung Kaca Biasa Menghasilkan Bekuan Lebih Cepat?
Koagulasi dimulai melalui aktivasi faktor XII (Hageman factor) saat darah berkontak dengan permukaan asing — dalam hal ini, permukaan kaca tabung. Inilah yang disebut jalur intrinsik (contact activation pathway).
Tabung kaca biasa (plain glass) menyediakan permukaan yang sangat efektif untuk mengaktivasi faktor XII, sehingga pembekuan terjadi dalam 5-15 menit. Sebaliknya, tabung tersilikonisasi memiliki permukaan yang lebih inert (kurang reaktif), sehingga aktivasi faktor XII terjadi lebih lambat dan CT menjadi 20-60 menit. Karena waktu yang diperlukan sangat panjang, metode dengan tabung tersilikonisasi dianggap tidak praktis untuk laboratorium rutin (Brown, 1993).
Hal-hal yang Memengaruhi Hasil
Berdasarkan panduan dari Hematology: Principles and Procedures (Brown, 1993) dan Chaudhry & Killeen (2025), berikut faktor-faktor yang dapat memengaruhi hasil Lee and White:
Faktor yang Memperpanjang CT- Volume darah lebih dari 1 mL per tabung
- Suhu inkubasi di bawah 37°C
- Volume darah kurang dari 1 mL per tabung → waktu beku lebih pendek
- Teknik venipuncture yang buruk → hemolisis atau masuknya tissue thromboplastin dari jaringan ke dalam sampel → mempercepat koagulasi (karena mengaktivasi jalur ekstrinsik)
- Agitasi yang berlebihan pada tabung → mempercepat koagulasi
- Gelembung udara (bubbles) masuk ke dalam syringe saat pengambilan darah → meningkatkan laju koagulasi
- Tabung harus kaca 13 × 100 mm sesuai standar; penggunaan tabung dengan ukuran berbeda akan mengubah nilai normal
- Stopwatch harus dihidupkan segera saat darah pertama masuk ke syringe
- Miringkan tabung dengan lembut — agitasi yang tidak perlu mempersingkat hasil
Interpretasi Hasil
| Hasil | Kemungkinan Kondisi |
|---|---|
| Normal (5-15 menit) | Fungsi koagulasi jalur intrinsik dalam batas normal |
| Memanjang (>15 menit) | Hemofilia berat (defisiensi VIII/IX parah), afibrinogenemia, terapi heparin aktif, inhibitor koagulasi |
| Memendek (<5 menit) | Kesalahan teknis (agitasi, tissue thromboplastin terkontaminasi), atau kondisi hiperkoagulabilitas |
Perhatian penting: Nilai normal tidak menyingkirkan hemofilia ringan hingga sedang. Clotting time memanjang hanya pada defisiensi faktor yang berat (Chaudhry & Killeen, 2025; Brown, 1993).
Pemeriksaan Lanjutan: Clot Retraction
Setelah Lee and White selesai, salah satu tabung dapat dibiarkan dalam water bath 37°C untuk evaluasi retraksi bekuan (clot retraction) — yaitu proses pemadatan bekuan seiring waktu akibat aktivitas trombosit (protein trombosthenin yang dilepas trombosit).
Jadwal pemeriksaan retraksi bekuan:
- Diperiksa pada 1 jam, 2 jam, 4 jam, dan 24 jam setelah bekuan terbentuk
- Bekuan normal: mulai retraksi dalam 30 detik setelah membeku
- 1 jam: terlihat retraksi bermakna
- 4 jam: hampir retraksi sempurna
- 24 jam: retraksi lengkap
Retraksi bekuan yang buruk ditemukan pada:
- Jumlah trombosit < 50.000/µL
- Trombastenia Glanzmann (gangguan fungsional trombosit)
Keterbatasan Metode Lee and White
1. Sensitivitas RendahMerupakan salah satu uji hemostasis paling tua dan tidak sensitif. Gagal mendeteksi defisiensi faktor koagulasi ringan hingga sedang. Nilai normal bisa diperoleh bahkan pada hemofilia A dan B ringan-sedang (Chaudhry & Killeen, 2025).
2. Tidak Dapat Mendeteksi Defisiensi Jalur EkstrinsikKarena hanya mengukur jalur intrinsik, metode ini tidak mendeteksi gangguan pada faktor VII. Untuk jalur ekstrinsik dan jalur bersama, digunakan Prothrombin Time (PT/INR).
3. Variabilitas TinggiBanyak variabel teknis (agitasi, suhu, volume, kualitas venipuncture) yang mempengaruhi hasil, sehingga reprodusibilitas terbatas.
4. Sudah Dianggap Obsolet sebagai Uji SaringPanduan internasional saat ini merekomendasikan APTT (Activated Partial Thromboplastin Time) sebagai pengganti Lee and White untuk skrining gangguan koagulasi jalur intrinsik, karena APTT jauh lebih sensitif dan reproducible (Chaudhry & Killeen, 2025).
Perbandingan dengan Pemeriksaan Hemostasis Lainnya
| Pemeriksaan | Jalur yang Diukur | Sensitivitas | Kegunaan Utama |
|---|---|---|---|
| Lee and White CT | Intrinsik | Rendah | Monitoring heparin sederhana |
| APTT | Intrinsik & bersama | Tinggi | Skrining + monitoring heparin |
| PT/INR | Ekstrinsik & bersama | Tinggi | Monitoring warfarin/coumarin |
| Bleeding Time | Trombosit & vaskular | Sedang | Gangguan trombosit, Von Willebrand |
Kesimpulan
Metode Lee and White merupakan fondasi historis pemeriksaan hemostasis yang masih relevan dipahami oleh setiap tenaga laboratorium. Prinsipnya sederhana: darah segar ditempatkan dalam tiga tabung, diinkubasi pada 37°C, dan diamati hingga terbentuk bekuan dengan hasil diambil dari tabung ketiga yang paling sedikit mengalami gangguan mekanis.
Meskipun metode ini memiliki keterbatasan sensitivitas dan telah digantikan oleh APTT sebagai uji saring standar, pemahaman tentang Lee and White tetap penting karena memberikan gambaran fundamental tentang mekanisme koagulasi jalur intrinsik, faktor-faktor yang mempengaruhi pembekuan darah, dan konteks historis perkembangan ilmu hemostasis.
Dalam praktik klinis modern, metode ini masih dapat digunakan untuk pemantauan terapi heparin sederhana di fasilitas dengan keterbatasan peralatan, selama nilai rujukan ditetapkan secara lokal dan prosedur dijalankan dengan konsistensi penuh.
Referensi
-
Lee, R.I., & White, P.D. (1913). A clinical study of the coagulation time of blood. The American Journal of the Medical Sciences, 145, 495–503.
DOI: 10.1097/00000441-191304000-00004 Full text: https://archive.org/details/paper-doi-10_1097_00000441-191304000-00004 -
Brown, B.A. (1993). Hematology: Principles and Procedures (6th ed.). Lea & Febiger, Philadelphia.
-
Cartwright, G.E. (1963). Diagnostic Laboratory Hematology. Grune & Stratton, Inc., New York.
-
Chaudhry, R., Killeen, R.B., & Babiker, H.M. (2025). Physiology, Coagulation Pathways. In StatPearls. Treasure Island, FL: StatPearls Publishing.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482253/ -
Kitchen, S., Adcock, D.M., Dauer, R., Kristoffersen, A.H., Lippi, G., Mackie, I., Marlar, R.A., & Nair, S. (2021). International Council for Standardisation in Haematology (ICSH) recommendations for collection of blood samples for coagulation testing. International Journal of Laboratory Hematology, 43(4), 571–580.
DOI: 10.1111/ijlh.13584 -
Harmening, D.M (2019). Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostasis (6th ed.). F.A. Davis Company.
-
Rodak, B.F., Fritsma, G.A., & Keohane, E.M. (2020). Hematology: Clinical Principles and Applications (6th ed.). Elsevier/Saunders.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar