Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) atau dalam literatur lama juga disebut Partial Thromboplastin Time (PTT) adalah pemeriksaan koagulasi tunggal yang paling berguna untuk skrining gangguan pembekuan darah secara rutin. Pemeriksaan ini merupakan prosedur pilihan utama yang tersedia di laboratorium untuk evaluasi sistem koagulasi (Brown, 1993; Hematology: Principles and Procedures).
APTT mengukur faktor-faktor koagulasi yang bekerja pada jalur intrinsik dan jalur bersama (common pathway), kecuali trombosit dan faktor XIII. Selain itu, Faktor VII dari jalur ekstrinsik juga tidak diukur oleh pemeriksaan APTT (Brown, 1993; Chaudhry & Bhalla).
Pemeriksaan ini juga dikenal dengan istilah activated PTT karena menggunakan bahan aktivator komersial (kaolin, silika, selite, atau asam elagik) yang memastikan aktivasi maksimal faktor-faktor kontak, sehingga memberikan hasil yang lebih konsisten dan reproducible dibandingkan PTT tanpa aktivator (Brown, 1993; CLSI H47-A2, 2008).
Prinsip Pemeriksaan
Prinsip dasar APTT adalah sebagai berikut: kalsium dalam darah lengkap diikat oleh antikoagulan (natrium sitrat) untuk mencegah pembekuan. Plasma yang dihasilkan setelah sentrifugasi mengandung semua faktor koagulasi intrinsik kecuali kalsium dan trombosit. Kemudian ke dalam plasma ini ditambahkan (Brown, 1993; CLSI H47-A2, 2008):
- Kalsium klorida (CaCl₂ 0,025 M): untuk mengembalikan ion kalsium yang sebelumnya diinaktivasi oleh antikoagulan
- Partial thromboplastin (fosfolipid): sebagai substitusi trombosit (platelet substitute), menyediakan permukaan untuk perakitan kompleks koagulasi
- Activator: bahan bermuatan negatif (kaolin, silika mikronized, selite, atau asam elagik) yang mengaktivasi faktor XII dan memulai kaskade koagulasi jalur intrinsik secara maksimal
Waktu yang diperlukan plasma untuk membentuk bekuan setelah penambahan kalsium klorida dicatat sebagai APTT (CLSI H47-A2, 2008).
Secara lebih rinci, aktivator mengaktivasi faktor XIIyang kemudian membentuk kompleks dengan high-molecular-weight kininogen (HMWK / Fitzgerald factor) dan prekallikrein (Fletcher factor). Faktor XIIa mengaktivasi faktor XI → faktor IX → faktor X, yang bersama faktor VIIIa, kalsium, dan fosfolipid membentuk kompleks untuk mengkonversi protrombin menjadi trombin, dan akhirnya fibrinogen menjadi bekuan fibrin (Rodak et al., 2020; CLSI H47-A2, 2008).
Faktor yang Diukur dan Tidak Diukur
| Status | Faktor Koagulasi | Jalur |
|---|---|---|
| Diukur APTT | I (fibrinogen), II (protrombin), V, VIII, IX, X, XI, XII, prekallikrein, HMWK | Intrinsik & bersama |
| Tidak diukur APTT | Faktor VII, Faktor XIII, Trombosit | Ekstrinsik / lainnya |
Penting dicatat bahwa APTT tidak sensitif terhadap defisiensi faktor XI dan XII secara ringan, agak tidak sensitif terhadap faktor-faktor kontak tersebut (Brown, 1993). Sebaliknya, APTT paling sensitif terhadap defisiensi faktor VIII, IX, dan XI (CLSI H47-A2, 2008).
Tujuan dan Kegunaan Klinis
1. Uji Saring Tunggal Terbaik untuk Gangguan KoagulasiAPTT adalah uji saring tunggal terbaik yang tersedia untuk mendeteksi gangguan koagulasi. Pemeriksaan ini abnormal pada 90% defek koagulasi dan mendeteksi defisiensi serta inhibitor semua faktor kecuali VII dan XIII (Chernecky & Berger, 2008).
2. Pemantauan Terapi Heparin Tidak Terfraksi (Unfractionated Heparin)Sejak awal tahun 1970-an, APTT telah menjadi metode standar untuk memantau terapi heparin tidak terfraksi (UFH), yang digunakan pada pasien dengan trombosis vena, emboli paru, infark miokard, dan berbagai kondisi medis lainnya (Rodak et al., 2020). Rentang terapeutik APTT untuk UFH biasanya 60–100 detik, namun nilai ini bervariasi dan harus ditetapkan secara lokal oleh setiap laboratorium (CLSI H47-A2, 2008).
Catatan penting: Heparin berat molekul rendah (LMWH) dan analog heparin kecil (pentasakarida) tidak memperpanjang APTT secara dose-dependent. Oleh karena itu, APTT tidak boleh digunakan untuk memantau terapi LMWH (CLSI H47-A2, 2008).
3. Skrining Hemofilia A dan B
APTT merupakan pemeriksaan utama untuk skrining hemofilia A (defisiensi faktor VIII) dan hemofilia B (defisiensi faktor IX). Hemofilia A menghasilkan APTT memanjang dengan PT dan bleeding time normal. Hemofilia B didiagnosis berdasarkan APTT memanjang disertai PT normal atau memanjang, dikonfirmasi dengan assay langsung faktor IX (Chernecky & Berger, 2008).
4. Deteksi Inhibitor Koagulasi dan Lupus AntikoagulanAPTT digunakan untuk mendeteksi inhibitor koagulasi, termasuk lupus anticoagulant (LA) dan inhibitor faktor spesifik. LA adalah imunoglobulin (IgG, IgM, atau keduanya) yang memperpanjang reaksi APTT yang bergantung pada fosfolipid (CLSI H47-A2, 2008).
5. Pemantauan Terapi Penggantian FaktorAPTT juga digunakan untuk memantau terapi penggantian faktor pada pasien hemofilia yang mendapat konsentrat faktor (Rodak et al., 2020).
Spesimen
Jenis spesimen: Plasma sitrat miskin trombosit (platelet-poor plasma / PPP)
Antikoagulan: Natrium sitrat 3,2% (0,11 M) — tabung bertutup biru
Rasio darah:antikoagulan: 9 : 1 (wajib tepat; kesalahan rasio mengubah hasil secara signifikan)
Volume tabung: 2,7 mL atau 4,5 mL (tabung harus terisi penuh sesuai spesifikasi produsen)
Segera setelah pengambilan darah, tabung dibalik 3–5 kali perlahan untuk memastikan pencampuran yang baik dengan antikoagulan, lalu sentrifugasi pada 2.500 RPM selama 10–15 menit. Plasma dipisahkan dari sel darah segera setelah sentrifugasi dan ditempatkan di atas es (Brown, 1993; CLSI H47-A2, 2008).
Menurut CLSI H47-A2 dan panduan CLSI H21-A5, jika pemeriksaan tidak dapat dilakukan dalam 2 jam setelah pengambilan sampel, plasma harus dipisahkan dan dibekukan. Namun pembekuan sampel akan menurunkan sensitivitas terhadap lupus antikoagulan dan terhadap defisiensi faktor XII, XI, HMWK, dan prekallikrein (Chernecky & Berger, 2008).
Alat dan Bahan
| No. | Alat / Bahan | Spesifikasi |
|---|---|---|
| 1 | Water bath | 37°C ± 1°C |
| 2 | Kalsium klorida (CaCl₂) | 0,025 M (anhydrous CaCl₂ 1,38 g dalam 500 mL air suling) |
| 3 | Partial thromboplastin dengan aktivator | Reagen komersial (kaolin, silika, selite, atau asam elagik) |
| 4 | Plasma kontrol normal | Fresh normal pooled plasma (≥20 donor) |
| 5 | Tabung reaksi | 13 × 100 mm |
| 6 | Stopwatch / Koagulometer | Presisi hingga detik |
| 7 | Mikropipet | 0,1 mL dan 0,2 mL presisi |
Prosedur Pemeriksaan (Metode Manual)
Berdasarkan prosedur dari Brown (1993; Hematology: Principles and Procedures), CLSI H47-A2 (2008), dan Concise Book of Medical Laboratory Technology:
Persiapan Reagen- Sentrifugasi darah sitrat pada 2.500 RPM selama 10 menit sesegera mungkin setelah pengambilan darah.
- Pisahkan plasma dari sel segera dan simpan di atas es.
- Inkubasi CaCl₂ 0,025 M pada suhu 37°C dalam water bath hingga siap digunakan.
- Sebelum digunakan, aduk reagen partial thromboplastin dengan perlahan (swirl).Jangan dikocok keras.
- Pipet 0,2 mL plasma kontrol normal (atau plasma pasien) ke dalam tabung 13 × 100 mm.
- Pipet 0,2 mL partial thromboplastin (mengandung aktivator) ke dalam tabung yang sama.
- Campur isi tabung dengan cepat, lalu inkubasi dalam water bath 37°C selama tepat 3 menit.
- Setelah tepat 3 menit, masukkan (blow) 0,2 mL CaCl₂ yang sudah dihangatkan dan hidupkan stopwatch secara bersamaan.
- Campur tabung sekali segera setelah penambahan CaCl₂. Biarkan tabung dalam water bath sambil dimiringkan perlahan setiap 5 detik.
- Setelah 30 detik, angkat tabung dari water bath. Lap bagian luar tabung dengan kain kasa bersih.
- Miringkan tabung bolak-balik dengan perlahan hingga terbentuk bekuan, kemudian hentikan stopwatch.
- Kontrol dan plasma pasien harus selalu dijalankan dalam duplikat. Rata-ratakan dua hasil. Kedua hasil harus dalam rentang ±1,5 detik satu sama lain. Jika tidak, ulangi pemeriksaan.
- Laporkan hasil pasien beserta hasil kontrol normal. Jika hasil kontrol normal tidak dalam rentang normal, ada masalah dengan reagen, alat, atau teknik — seluruh pemeriksaan harus diulang (Brown, 1993).
- Pipet 0,1 mL plasma ke dalam tabung kaca.
- Tambahkan 0,1 mL suspensi kaolin ke plasma. Inkubasi campuran plasma-kaolin dalam water bath 37°C selama 10 menit.
- Campur 2 mL suspensi platelet substitute (fosfolipid) dengan 2 mL CaCl₂, inkubasi dalam water bath 37°C.
- Tambahkan 0,2 mL campuran fosfolipid-CaCl₂ ke campuran plasma-kaolin dan hidupkan stopwatch.
- Catat waktu hingga terbentuk bekuan.
- Ulangi dengan plasma kontrol. Hasil harus dalam 1 detik dari pembacaan sebelumnya.
Catatan CLSI H47-A2 (2008): Jika pemeriksaan dilakukan secara manual, uji harus dilakukan dalam duplikat dan kedua hasil harus bersesuaian dalam 10%. Dengan instrumen koagulasi otomatis yang memiliki presisi tinggi, pengujian singlet dapat diterima jika evaluasi reprodusibilitas yang memadai telah dilakukan sebelumnya.
Waktu Inkubasi Kontak (Contact Activation Time)
Waktu inkubasi kontak yaitu durasi inkubasi plasma dengan reagen APTT sebelum penambahan kalsium adalah parameter yang sangat penting dan harus distandarisasi ketat. Waktu inkubasi yang berbeda untuk instrumen dan reagen yang berbeda harus mengikuti instruksi produsen. Variasi dalam waktu inkubasi ini merupakan salah satu sumber utama perbedaan hasil antar laboratorium (CLSI H47-A2, 2008).
Untuk prosedur manual dengan kaolin sebagai aktivator, waktu inkubasi yang umum digunakan adalah 3–10 menit pada 37°C, tergantung reagen yang digunakan.
Nilai Normal (Nilai Rujukan)
| Sumber / Metode | Nilai Normal | Keterangan |
|---|---|---|
| Metode manual umum (Brown, 1993) | 35–45 detik | Borderline: 45–50 dtk; Abnormal: >50 dtk |
| Chaudhry & Bhalla (2023) | 30–40 detik | Perpanjangan >8 dtk dari kontrol = abnormal |
| Chernecky & Berger (2008) | <35 detik | Rentang umum 20–36 detik |
| Liquicelin-E® (reagen kaolin elagik acid) | 21–29 detik | Untuk 3 menit waktu aktivasi |
| Satu pusat medis (contoh CLSI) | 26–38 detik | Tipikal, namun bervariasi antar laboratorium |
| Bayi prematur | <120 detik | Fisiologis |
| Neonatus | <90 detik | Fisiologis |
| Bayi | 24–40 detik | |
| Terapi heparin terapeutik (penyakit koroner) | 50–80 detik | Chernecky & Berger, 2008 |
| Panic level dewasa | >70 detik | Risiko perdarahan bermakna |
Prinsip penting (CLSI H47-A2, 2008): Setiap laboratorium wajib menetapkan nilai rujukan lokalnya sendiri berdasarkan populasi pasien, jenis reagen, jenis instrumen, dan metode deteksi pembekuan. Nilai rujukan harus diverifikasi ulang setiap kali ada perubahan lot reagen, instrumen, atau setidaknya sekali setahun. Direkomendasikan minimal 120 subjek sehat untuk menetapkan rentang referensi yang valid secara statistik.
Interpretasi Hasil
APTT Memanjang (> nilai rujukan atas)APTT memanjang dapat disebabkan oleh (Chernecky & Berger, 2008; Rodak et al., 2020; Brown, 1993; CLSI H47-A2, 2008):
| Penyebab | Mekanisme |
|---|---|
| Hemofilia A (defisiensi faktor VIII) | Jalur intrinsik terganggu; defisiensi harus <30–40% normal untuk memperpanjang APTT |
| Hemofilia B (defisiensi faktor IX) | Jalur intrinsik terganggu |
| Defisiensi faktor XI, XII, X, V, II | Gangguan jalur intrinsik dan bersama |
| Defisiensi HMWK (Fitzgerald factor) dan prekallikrein (Fletcher factor) | Faktor kontak; memperpanjang APTT tanpa menyebabkan perdarahan klinis |
| Von Willebrand disease | Penurunan faktor VIII yang konsisten |
| Terapi heparin | Heparin mengaktivasi antitrombin yang menetralisir trombin dan faktor Xa |
| Lupus antikoagulan (LA) | Menetralisir fosfolipid dalam reagen |
| DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) | Konsumsi faktor prokoagulan |
| Penyakit hati berat | Penurunan sintesis faktor koagulasi |
| Afibrinogenemia | Tidak ada fibrinogen |
| Defisiensi vitamin K berat | Penurunan faktor II, IX, X |
| Obat-obatan | Heparin, warfarin, alkohol, metotreksat, salisilat, asam valproat, klorpromazin |
APTT Memendek (< nilai rujukan bawah)
APTT memendek dapat terjadi pada (Chernecky & Berger, 2008):
- Kanker luas (kecuali bila hati terlibat)
- Segera setelah perdarahan akut
- Stadium awal DIC
- Abnormalitas Fletcher factor yang tidak disertai perdarahan (namun risiko tromboembolisme)
- APTT memendek pada presentasi nyeri dada dikaitkan dengan peningkatan risiko infark miokard akut (Chernecky & Berger, 2008)
Perbedaan PTT dan APTT
PTT (Partial Thromboplastin Time) tanpa aktivator dilakukan dengan cara yang persis sama dengan APTT, namun menggunakan partial thromboplastin tanpa aktivator. Nilai normal PTT tanpa aktivator umumnya 40–100 detik, dengan nilai ≥120 detik dianggap abnormal. Aktivator dalam APTT memungkinkan aktivasi maksimal faktor kontak dan memberikan hasil yang lebih konsisten dan reproducible dibandingkan PTT tanpa aktivator (Brown, 1993).
Sumber Kesalahan dan Faktor yang Mempengaruhi Hasil
Berdasarkan CLSI H47-A2 (2008) dan Chernecky & Berger (2008):
Faktor Pra-Analitik (yang Memanjangkan APTT secara Palsu)- Tabung terisi kurang dari volume yang ditentukan (underfill) → rasio antikoagulan:darah meningkat → APTT memanjang secara palsu
- Tabung terisi lebih dari volume yang ditentukan (overfill) → mempengaruhi hasil secara tidak dapat diprediksi
- Hematokrit >55% → kelebihan antikoagulan relatif terhadap volume plasma → APTT memanjang palsu; perlu penyesuaian volume sitrat menggunakan formula khusus (CLSI H47-A2, 2008)
- Pengambilan sampel dari lengan yang sedang mendapat infus heparin
- Kontaminasi heparin dari sistem arteri line
- Gagal membuang 1–2 mL pertama pada pengambilan traumatik → aktivasi jalur ekstrinsik oleh tissue thromboplastin dari jaringan → APTT memendek palsu (Chernecky & Berger, 2008)
- Hemolisis sampel
- Waktu inkubasi kontak yang tidak tepat (terlalu singkat atau terlalu lama)
- Suhu inkubasi yang tidak akurat (<37°C atau >37°C)
- Reagen partial thromboplastin yang pernah membeku sebelum digunakan → hasil PTT bisa memanjang hingga ≥15 detik (Brown, 1993)
- Volume pipetase reagen atau sampel yang tidak akurat
- Pencampuran yang tidak memadai atau terlalu kuat
- Usia, jenis kelamin, dan golongan darah ABO dapat mempengaruhi APTT pada individu normal (Chernecky & Berger, 2008)
- Plasma oxalat hanya boleh digunakan jika pemeriksaan dilakukan segera (<1 jam setelah pengambilan darah); plasma sitrat harus disentrifugasi dalam 30 menit dan dapat disimpan di atas es hingga 1,5 jam (Brown, 1993)
- Pada pasien laki-laki yang mendapat terapi estrogen dan perempuan yang mengonsumsi kontrasepsi oral, APTT bisa memendek (Concise Book of Medical Laboratory Technology)
- Defisiensi faktor I (fibrinogen) mungkin tidak terdeteksi jika kadar fibrinogen ≥100 mg/dL (Chernecky & Berger, 2008)
- Beberapa herbal dapat meningkatkan APTT: dan shen (Salvia miltiorrhiza), dong quai (Angelica sinensis), feverfew, ginkgo biloba, jahe, dan ginseng (Chernecky & Berger, 2008)
- APTT tidak dapat mendeteksi defisiensi faktor VII, faktor XIII, dan disfungsi trombosit (Concise Book of Medical Laboratory Technology)
Uji Campur (Mixing Studies) APTT
Ketika APTT memanjang secara abnormal, langkah selanjutnya adalah uji campur untuk membedakan antara defisiensi faktor dengan inhibitor koagulasi (Brown, 1993; CLSI H47-A2, 2008).
Cara Melakukan Uji Campur:- Campurkan 0,1 mL plasma kontrol normal dengan 0,1 mL plasma pasien (menggantikan 0,2 mL plasma pasien yang biasa digunakan)
- Lakukan APTT pada campuran tersebut seperti prosedur standar
| Hasil Uji Campur | Interpretasi |
|---|---|
| Hasil mendekati plasma kontrol normal | Defisiensi faktor — plasma kontrol "menyuplai" faktor yang kurang. APTT normal bila konsentrasi faktor minimal 50% |
| Hasil mendekati hasil awal plasma pasien | Inhibitor (antikoagulan sirkulasi) — inhibitor dalam plasma pasien tetap aktif meskipun diencerkan 50% |
Beberapa inhibitor (terutama anti-faktor VIII dan beberapa lupus antikoagulan) bersifat time-dependent dan temperature-dependent. Oleh karena itu, jika uji campur segera menunjukkan koreksi, campuran harus diinkubasi 1–2 jam pada 37°C sebelum hasil akhir ditafsirkan (CLSI H47-A2, 2008; Rodak et al., 2020).
Kontrol Kualitas APTT
Berdasarkan CLSI H47-A2 (2008):
- Minimal dua level kontrol (normal dan abnormal) harus dijalankan setiap 8 jam operasional dan setiap kali reagent diganti
- Hasil kontrol normal harus berada dalam rentang referensi; hasil kontrol abnormal harus berada dalam rentang terapeutik untuk heparin tidak terfraksi
- Perbedaan antar hasil duplikat tidak boleh melebihi 5% dari nilai rata-ratanya
- Total koefisien variasi (CV) harian sistem analitik harus <5% dengan lot yang sama dari kontrol normal dan abnormal
- Jika hasil kontrol keluar dari batas yang ditetapkan, periksa reagen, kontrol, dan peralatan; dokumentasikan penyebab yang dapat diidentifikasi sebelum melaporkan hasil pasien apapun
Pemantauan Terapi Heparin dengan APTT
Setiap laboratorium harus menetapkan rentang terapeutik APTT-nya sendiri untuk terapi UFH dengan cara menetapkan rentang APTT yang bersesuaian dengan rentang konsentrasi heparin yang direkomendasikan (CLSI H47-A2, 2008). Rentang ini harus ditentukan menggunakan sampel ex vivo dari pasien yang menerima UFH, bukan dari sampel yang ditambahkan heparin secara in vitro, karena keduanya dapat menghasilkan rentang terapeutik yang berbeda.
Rentang ini harus ditetapkan ulang setiap kali ada perubahan reagen (termasuk perubahan lot), instrumen, atau kalibrasi ulang instrumen (CLSI H47-A2, 2008).
Sebagai panduan klinis untuk jenis terapi spesifik (Chernecky & Berger, 2008):
- Penyakit arteri koroner akut: 50–80 detik
- Penyakit vaskular perifer dengan emboli: 50–80 detik
Perbandingan APTT dengan Pemeriksaan Hemostasis Lainnya
| Pemeriksaan | Jalur yang Diukur | Faktor Sensitif | Tidak Diukur | Kegunaan Utama |
|---|---|---|---|---|
| APTT | Intrinsik & bersama | VIII, IX, XI, XII, V, X, II, I | VII, XIII, Trombosit | Skrining + monitoring heparin UFH |
| PT/INR | Ekstrinsik & bersama | VII, X, V, II, I | VIII, IX, XI, XII | Monitoring warfarin/coumarin |
| Lee and White CT | Intrinsik | Tahap 1 koagulasi (berat) | VII, XIII | Monitoring heparin sederhana (sudah obsolet) |
| Bleeding Time | Trombosit & vaskular | Fungsi trombosit, vWF | Semua faktor plasma | Gangguan trombosit, Von Willebrand |
APTT dan PT bersama-sama mendeteksi 95% abnormalitas koagulasi. Jika PT normal tetapi APTT abnormal, defek terletak pada tahap 1 (jalur intrinsik). Sebaliknya, jika PT abnormal namun APTT normal, defek kemungkinan pada faktor VII (jalur ekstrinsik) (Concise Book of Medical Laboratory Technology).
Implikasi Klinis Lengkap APTT
Berdasarkan Concise Book of Medical Laboratory Technology (Chaudhry & Bhalla) dan Rodak et al. (2020):
- APTT memanjang pada semua defek koagulasi tahap I (termasuk aktivitas trombosit dan tromboplastin)
- APTT biasanya memanjang pada penyakit Von Willebrand dan disertai penurunan kadar faktor VIII yang konsisten
- DIC memperpanjang hasil APTT karena konsumsi prokoagulan, namun APTT saja tidak definitif untuk diagnosis DIC
- Defisiensi vitamin K menurunkan kadar faktor II, VII, IX, dan X; namun karena defisiensi faktor VII tidak mempengaruhi APTT (dan faktor VII adalah yang pertama berkurang), APTT kurang sensitif terhadap defisiensi vitamin K dibandingkan PT
- Anti-faktor VIII, inhibitor spesifik paling umum, terdeteksi pada 10–20% pasien hemofilia berat, dan anti-faktor IX pada 1–3% pasien defisiensi faktor IX
- Inhibitor sirkulasi juga dapat ditemukan pada: transfusi plasma berulang, reaksi obat, tuberkulosis, glomerulonefritis kronik, lupus eritematosus sistemik, artritis reumatoid (Chaudhry & Bhalla)
Kesimpulan
APTT adalah pemeriksaan hemostasis yang paling fundamental dan paling banyak digunakan di laboratorium klinik modern. Dengan kemampuan mendeteksi defisiensi hampir semua faktor jalur intrinsik dan jalur bersama, serta sensitivitasnya yang tinggi terhadap heparin, APTT menjadi tulang punggung skrining koagulopati dan pemantauan terapi antikoagulan.
Keberhasilan pemeriksaan APTT sangat bergantung pada standarisasi pra-analitik (pengisian tabung yang tepat, penanganan sampel yang benar), parameter analitik (waktu inkubasi kontak, suhu, dan kalibrasi reagen), serta penetapan nilai rujukan lokal oleh setiap laboratorium. Panduan internasional CLSI H47-A2 memberikan kerangka standar yang komprehensif untuk memastikan presisi, akurasi, dan relevansi klinis pemeriksaan ini.
Referensi
- CLSI. (2008). One-Stage Prothrombin Time (PT) Test and Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) Test; Approved Guideline — Second Edition. CLSI document H47-A2 (ISBN 1-56238-672-7). Wayne, PA: Clinical and Laboratory Standards Institute.
- Brown, B.A. (1993). Hematology: Principles and Procedures (6th ed.). Lea & Febiger, Philadelphia.
- Chernecky, C.C., & Berger, B.J. (2008). Laboratory Tests and Diagnostic Procedures (5th ed.).
- Rodak, B.F., Fritsma, G.A., & Keohane, E.M. (2020). Hematology: Clinical Principles and Applications (6th ed.).
- Chaudhry, R., & Bhalla, K. Activated Partial Thromboplastin Time. In: Concise Book of Medical Laboratory Technology: Methods and Interpretations https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482253/
- Proctor, R.R., & Rapaport, S.I. (1961). The partial thromboplastin time with kaolin. American Journal of Clinical Pathology, 36, 212.
- Kitchen, S., Adcock, D.M., et al. (2021). ICSH recommendations for collection of blood samples for coagulation testing. International Journal of Laboratory Hematology, 43(4), 571–580. DOI: 10.1111/ijlh.13584
- Harmening, D.M. (2019). Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostasis (6th ed.). F.A. Davis Company.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar