Mengapa Antikoagulan EDTA Bagus Untuk Pemeriksaan Hematologi

Berbagi
Print
× Info! Artikel ini sudah diperbaharui pada tanggal 5 Febuari 2019.
Mengapa antikoagulan Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) bagus untuk pemeriksaan hematologi. Antikoagulan EDTA merupakan antikoagulan yang sering kita pakai untuk mencegah terjadinya pembekuan pada sampel darah terutama pada sampel darah dalam pemeriksaan hematologi.  Antikoagulan EDTA sendiri ada 3 macam K2 EDTA, K3 EDTA dan Na2 EDTA.

Antikoagulan EDTA yang berbentuk serbuk merupakan K2 EDTA dan cair K3 EDTA. Macam antikoagulan EDTA ada tiga bentuk yang berbeda dari EDTA. EDTA tersedia dalam disodium (Na2 EDTA), dipotassium (K2 EDTA) dan tripotassium (K3 EDTA). K2 EDTA dan Na2 EDTA yang biasa digunakan dalam bentuk kering, K3 EDTA biasanya digunakan dalam cairan. K3 EDTA walaupun dalam bentuk cairan menyebabkan pengecaran namun tidak berarti dan sangat bagus untuk melihat morfologi sel.

Sedangkan untuk menghitung jumlah sel dan ukuran sel lebih bagus memakai K2 EDTA karena K2 EDTA dalam bentuk kering tidak akan mengencerkan sampel dan direkomendasikan oleh ICSH (The International Council for Standardization in Haematology) dan CLSI (Clinical dan Laboratorium Standards Institute) untuk pemeriksaan hematologi. untuk perbedaan keduannya silahkan baca artikel Perbedaan K2 EDTA dan K3 EDTA.

Dilihat dai prinsipnya antikoagulan  EDTA sendiri menghambat proses pembekuan dengan mengikat ion kalsium dalam darah mirip dengan prinsip Na Citrat. Namun antikoagulan EDTA yang digunakan sejak awal 1950-an untuk mencegah pembekuan dalam sampel darah tersebut memiliki kelebihan dibandingkan antikoagulan lainnya. Karakteristik yang paling berbeda EDTA adalah tidak merusak sel-sel darah dan tidak mempengaruhi pengenceran yang berarti, sehingga sangat bagus untuk pemeriksaan hematologi.

Maka dari itu antikoagulan EDTA selain mencegah koagulasi, tidak merusak sel darah, pada pemakain antikoagulan EDTA tidak menyebabkan perubahan morfologi dalam sel darah dan jumlah sampel darah atau pengenceran yang tidak berarti. Untuk perbandingan misalnya K2 EDTA dengan sampel darah yaitu 1,5 sampai 2,0 mg / ml darah, ini tidak mempunyai pengaruh yang signifikan pada parameter jumlah darah atau pengencerannya tidak berarti. Harus diingat setiap pengambilan darah tabung harus terbalik beberapa kali (8-10) untuk memastikan pencampuran (homogen) dan dengan perbandingan yang benar.

Pengaruh EDTA pada Sel Darah Merah (RBC) :
Preparat apus yang baik menggunakan sampel dengan antikoagulan EDTA dengan rentang waktu 2-3 jam dari pengambilan sampel. Jika di buat lebih dari itu misalnya 5 jam akan di temukan kelainan dari sel-sel darah. Jika perbandingan EDTA dan sampel darah tidak imbang akan menyebabkan morfoglogi sel yang tidak bagus misalnya jika EDTA lebih banyak akan menyebabkan sel darah merah menyusut karena hipertonisitas dari plasma dengan peningkatan konsentrasi ion dan dapat membuat kelainan morfologi pada RBC atau morfologi tidak jelas. Kelebihan EDTA selain mempengaruhi eritrosit pada leukosit juga dapat menyebabkan kerusakan membran.

Pengaruh EDTA pada Trombosit :
Pengaruh pada tromobosit yaitu EDTA mengurangi aktivasi trombosit untuk beraggregrasi (bergerombol) dengan adanya kalsium dan cepat memebeku. Namun EDTA menggikat kalsium dan trombositpun tidak teraktivasi mencecah terjadinya adhesi.

Seperti yang kami jelas kan di atas EDTA sangat bagus untuk pembuatan preparat apus. Jadi lebih akurat memperkirakan jumlah trombosit pada preparat apus. Ketika hasil tes menunjukkan jumlah trombosit yang rendah pada pemeriksaan otomatik, pembuatan apusan darah harus dilakukan untuk membantu menentukan apakah penyebab jumlah trombosit yang rendah apakah karena kondisi pasien atau pencampuran darah dengan EDTA yang kurang baik.

Pengaruh EDTA pada Leukosit (WBC) :
Untuk pengunaan antikoagulan EDTA tidak mempengaruhi jumlah WBC selama minimal 3 hari pada suhu kamar. Namun pada sel Neutrofil dan sel monosit paling sensitif terhadap penyimpanan dengan antikoagulan EDTA, sedangkan sel limfosit sel paling stabil jika disimpan. Sedangkan karakteristik morfologi WBC pada darah EDTA pada penyimpanan di sekitar suhu 20-24°C, menyebabkan muncul vakuliasasi pada sel monosit setelah satu atau kurang dari empat jam; pada sel netrofil di temukan vakuolisasi setelah tiga sampai empat jam, atau kurang dari enam jam. Namun pada penyimpanan suhu 4°C selama 12 jam hanya sedikit perubahan dalam karakteristik morfologi WBC.


Pustaka
Patel N. 2009, Volume 7, No. 1, BD Global Technical Services receives many questions about BD products. To address these questions, we have developed a periodic news bulletin called “Tech Talk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar